METRO24JAM.ID – Di tengah gencarnya polisi memberantas narkoba, sejumlah pria yang diduga suruhan ketua Ormas yang dikenal sebagai bandar besar narkoba di kawasan Jermal, malah nekat menganiaya seorang warga bernama Rahmadsyah (45 tahun).
Aksi penganiayaan itu sendiri berlangsung di Jalan Jermal VII Kecamatan Medan Denai Kota Medan, Sabtu (30/5/2026) sekira jam19.30 WIB. Kini, kasusnya sudah dilaporkan ke polisi dengan Nomor LP/B/2299/V/2026/SPKT/POLRESTABES MEDAN/POLDA SUMATERA UTARA tertanggal 30 Mei 2026.
“Ya benar. Saat ini kami sedang melakukan penyelidikan,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Adrian Risky Lubis saat dikonfirmasi, Senin (1/6/2026).
Dari info yang diperoleh wartawan, Rahmadsyah merupakan adik kandung dari anggota TNI Serka Dede Andiruka. Dia diduga dianiaya oleh 50 anggota ormas di indekosnya.
“Peristiwa penganiayaan itu berlangsung di Jalan Jermal VII. Di situ (Jermal VII) korban (Rahmadsyah) dipukul dan dikeroyok. Terakhir kali dipukul pakai (tongkat) bisbol kepalanya, setelah itu dibacok. Baru setelah dia sudah enggak sadarkan diri, langsung diseret, dibacok itu di dalam kamar,” ujar Dede kepada wartawan, Senin (1/6/2026).
Dede juga menuturkan, adiknya diduga diculik usai dianiaya. Dia dibawa oleh anggota ormas tersebut dengan menaiki mobil. Para pelaku kemudian meletakkan korban di depan Rumah Sakit Muhammadiyah dalam keadaan terluka.
Dede sendiri baru mengetahui kondisi adiknya dari pihak rumah sakit.
“Kami dapat informasi keberadaan adik saya lewat dokter. Nah, saya yang pertama datang ke situ. Awalnya saya enggak boleh masuk karena pakai baju dinas. Saya kan abang kandungnya, baru boleh masuk,” sambung Dede.
Dari penjelasan dokter, lanjut Dede, Rahmadsyah mengalami luka berat di kepalanya. Bagian itu sampai harus dijahit.
“Dokter menjelaskan kepada saya, kami tidak bisa menangani secara keberlanjutan. Sehingga penanganan medis sementara karena tengkorak kepalanya itu terkelupas lebih kurang 3-5 inchi lebarnya. Jadi langsung ditutup sama dokter, baru dijahit,” ujar Dede.
Rahmadsyah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Dede belum mengetahui motif penyerangan oknum ormas tersebut. Namun dia menerangkan, kasus ini berawal dari Rahmadsyah yang membela temannya, Bram. Sehari sebelum korban dianiaya, Bram dipukuli oleh diduga anggota ormas.
“Ada adik-adikan dia (teman Rahmadsyah) umurnya kurang lebih 20 atau 23 tahun. Namanya Bram. Bram ini sebelumnya waktu hari Jumat itu sudah dipukuli orang (ormas). Sehingga adik saya ini karena dia merasa abangnya, jadi datanglah ‘siapa yang kemarin yang memukuli adikku?’ kan gitu. Barulah datang, habis itu pulang adikku. Habis pulang adikku, datanglah itu anak-anak (ormas) nyari-nyari dia,” jelas Dede.
Keberadaan Bram saat ini tidak diketahui. Dede menduga Bram diculik oleh kelompok tersebut.
“Jadi yang namanya Bram itu sampai sekarang belum kembali. Masih diculik sama mereka lah. Bahasa enaknya, masih diculik sama mereka. Saya masih mencari keberadaan si Bram di mana, belum ditemukan sampai sekarang,” imbuh Dede.
“Pasti ada dasarnya, ada latar belakangnya, apa ini kok bisa menyerang kan begitu. Belum diketahui (motif penyerangan),” imbuhnya. (hidayat ahmad)






