METRO24JAM.ID – Suasana di depan Polrestabes Medan memanas ketika keluarga Putra Sembiring, korban pencurian di kawasan Pancurbatu Kabupaten Deliserdang, mendatangi kantor polisi untuk menuntut keadilan, Kamis (5/6/2026).
Mereka meluapkan amarah lantaran Putra Sembiring justru ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus yang mereka yakini sebagai korban pencurian.
Dari pantauan wartawan, keluarga korban tampak berteriak sambil merekam langsung kejadian tersebut. Seorang pria yang mengklaim diduga sebagai kakak korban, bersama ibu korban, terlihat emosional saat menyampaikan protes keras di depan Polrestabes Medan.
Mereka menilai, penanganan kasus Putra Sembiring Cs tidak adil dan merugikan pihak korban. Dengan suara lantang, keluarga menyebut nama Presiden Prabowo Subianto, Kapolri, mantan Presiden ke-7 Joko Widodo, hingga Kapolda dan Gubernur Sumatera Utara, sambil meminta agar kasus yang menimpa anak mereka ditinjau ulang.
“Kami minta keadilan! Bapak Prabowo tolong kami.. Bapak Kapolri, Komisi III DPR-RI segera RDP (rapat dengar pendapat) kasus adik kami. Dia tidak bersalah, kenapa dia dijadikan tersangka?” teriak pria berbaju putih yang mengaku abang Putra Sembiring.
Teriakan meminta keadilan menggema di depan Polrestabes Medan, mencerminkan kekecewaan dan kemarahan keluarga terhadap proses hukum yang berjalan.
Ibu korban juga ikut meneriakkan bahwa anaknya tidak bersalah. Karena menurutnya, semua proses penangkapan 2 pencuri di hotel hingga diantar ke Polsek Pancurbatu ada video dan fotonya.
“Tidak ada pengeroyokan dan pemukulan bersama-sama. Apalagi main setrum. Kami punya bukti video dan fotonya saat ditangkap. Tapi setelah tiga hari di kantor polisi, barulah wajah dua pencuri itu babakbelur. Ada apa ini Pak Kapolres?” teriaknya tak kalah lebih keras.
Aksi tersebut sempat menarik perhatian warga sekitar dan dengan cepat viral di media sosial.
Sementara tak satu pun pejabat terkait di Polrestabes Medan yang menemui keluarga korban sekaligus tersangka, Putra Sembiring. Kapolresta dan Kasat Reskrim juga tak ada yang ‘berani’ turun. (hidayat ahmad/snc)






