METRO24JAM.ID – Bencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang menyisakan duka yang mendalam. Ribuan rumah warga hancur dan bahkan, ada desa yang rata dengan tanah.
Mirisnya, pemerintah seakan tak peduli. Meski sudah 2 bulan lebih berlalu, banyak warga yang masih hidup di tenda-tenda seadanya. Siang kepanasan dan malam kedinginan.
Bayangkan, tenda plastik yang hanya berukuran 2×3 meter itu, harus menjadi ‘rumah’ bagi korban bencana. Siang udara Aceh Tamiang begitu terik, hingga bisa dibayangkan panasnya udara. Sedangkan malam, dinginnya menyucuk tulang.
“Abang rasakan sendiri siang bagaimana teriknya. Sedangkan malam, sangat dingin menyucuk tulang. Karenanya, terpaksa kami harus menambah terpal di atas tenda. Hal ini untuk mengurangi panas matahari dan dinginnya udara malam,” ujar Hamdani, korban bencana banjir bandang di Desa Sukajadi Kecamatan Karang Baru Aceh Tamiang, Kamis (29/1/2026).
Tak hanya masalah tempat tinggal, untuk makan pemerintah terkesan asal-asalan. Saat ini, korban bencana hanya diberi makan lewat Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari Senin sampai Sabtu diberi, sedangkan untuk Minggu ‘dipaksa’ cari makan sendiri.
“Untuk makan, kami memang diberi dua kali sehari, makan siang dan makan malam. Tapi itu dari Program MBG. Sedangkan untuk Minggu libur. Kami disuruh cari makan sendiri,” ujarnya lagi.
Lebih lanjut Hamdani mengatakan, Pemkab Aceh Tamiang memang ada memberikan rumah hunian sementara (huntara). Tapi jaraknya di Kawasan Opak, dekat Kantor Bupati dan cukup jauh dari pemukiman warga korban bencana.
“Bukan warga tak mau dipindahkan ke Opak, tapi jaraknya cukup jauh. Sementara kami tak punya pekerjaan. Sementara pemerintah belum ada memberikan bantuan apapun. Janji memberikan uang Rp15 ribu perhari, hingga detik ini pun kami tidak pernah menerima,” bebernya.
Hamdani berharap, Pemkab Aceh Tamiang bisa lebih peduli dengan korban bencana. Karena sampai saat ini, Bupati Aceh Tamiang tak pernah turun ke Desa Sukajadi sekadar untuk melihat rakyatnya yang menjadi korban bencana.
“Bayangkan abang, sampai sekarang Bupati tak pernah turun melihat nasib rakyatnya yang menjadi korban bencana. Kan luar biasa kami sedihnya. Presiden pun saat berkunjung hanya di tempat-tempat tertentu yang sudah disterilkan,” ujar warga yang sebelumnya bekerja sebagai buruh kasar. (hidayat ahmad)






