METRO24JAM.ID – Bencana banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang, membuat sejumlah gedung, fasilitas publik dan rumah-rumah hancur. Tak terkecuali kawasan wisata.
Dari pendataan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Aceh Tamiang, selama 2 bulan pascabencana, kondisi destinasi wisata alam di daerah itu masih lumpuh total dan tanpa pengunjung.
“Dua bulan terakhir ini wisatawan sama sekali nggak ada. Pascabencana tercatat pengunjung nol, baik ke destinasi air terjun maupun wisata bahari (pantai),” ujar Kabid Pariwisata dan Ekonomi Disparpora Aceh Tamiang Thamrindu Lubis, belum lama ini di Aceh Tamiang.
Padahal kata Thamrindu, jumlah wisatawan yang datang sebelum bencana banjir terbilang besar, hampir 1.000 orang setiap pekannya di satu lokasi objek wisata.
Sedangkan untuk jumlah wisatawan lokal dan luar daerah per tahun yang masuk ke Aceh Tamiang tercatat 70 ribu pengunjung, tersebar di 14 destinasi wisata alam.
Lebih lanjut, kata Thamrindu, biasanya pengunjung terbanyak ke objek wisata Pemandian Sungai Gunung Pandan Tenggulun, bisa mencapai 600 wisatawan per minggu. Kemudian Pantai Pulau Rukui di pesisir Banda Mulia 800 pengunjung per pekannya.
“Tapi hari ini tidak ada pengunjung datang karena masih terkendala akses jalan menuju objek wisata penuh lumpur dan kayu,” ujarnya.
Dijelaskannya, dari 14 objek wisata alam di Aceh Tamiang, Gunung Pandan dan Pulau Rukui paling diminati wisatawan. Termasuk pemandian air panas di Desa Kaloy Tamiang Hulu yang sudah memiliki fasilitas umum lengkap.
Namun saat ini, kondisi 3 destinasi wisata andalan masyarakat Aceh Tamiang itu sudah porak-poranda setelah diterjang banjir dan tanah longsor. Seluruh fasilitas umum seperti homestay, pondok santai, gazebo dan MCK rusak berat.
“Saat ini destinasi wisata Aceh Tamiang dari hulu sampai hilir semua hancur. Termasuk sarana-prasarana fasilitas umum yang dibangun oleh pemerintah, sekitar 50-60 persen hancur,” bebernya.
“Ada sedikit tinggal di destinasi Gunung Pandan karena daerah tinggi, tetapi di sana longsor. Nah, untuk saat ini semua jalan dan lintasan menuju ke destinasi itu belum bisa dilewati,” tegasnya.
Thamrindu juga menyadari, butuh waktu lama untuk memulihkan destinasi wisata yang terdampak bencana. Termasuk di objek wisata alam air terjun yang dipenuhi batang kayu yang terbawa air bah.
Meski demikian, pihaknya menargetkan setelah Lebaran Idul Fitri 2026, salah satu objek wisata primadona di wilayah hulu, yaitu Gunung Pandan Tenggulun diupayakan beroperasi kembali untuk menarik minat pengunjung.
“Kami sudah panggil semua kelompok sadar wisata (Pokdarwis) desa masing-masing untuk mendata kerusakan dan kebutuhan alat yang diperlukan. Kami akan segera fasilitasi untuk melakukan rehabilitasi,” ujar Thamrindu mengakhiri. (ant/hidayat ahmad)






