METRO24JAM.ID – Pencopotan Musa Rajeckshah (Ijeck) dari jabatannnya sebagai ketua DPD Golkar Sumut semakin membenarkan dugaan tentang rendahnya kualitas dan karakter kepemimpinan Bahlil Lahadalia di dalam memimpin Partai Golkar.
Sebab, pencopotan Ijeck berarti membuang kader berprestasi demi memenuhi ‘permintaan’ pihak luar yang tak ada kaitannya dengan kepentingan Partai Golkar.
Kader Senior Golkar Sumut Dr KRT H Hardi Mulyono Surbakti MAP menegaskan hal itu, berkaitan dengan kebijakan DPP Golkar yang mencopot Ijeck dan menggantikannya dengan Ahmad Doli Kurnia Tanjung sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut.
Hardi Mulyono menyebutkan, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari bebeberapa sumber di DPP Golkar, pencopotan tersebut dikarena Ijeck tidak mau melaksanakan Musda Golkar Sumut dengan calon tunggal Hendriyanto Sitorus yang saat ini menjabat ketua Golkar Labuhanbatu Utara yang juga Bupati.
Sebagaimana dipahami masyarakat Sumut, munculnya nama Hendriyanto itu diduga kuat merupakan usulan dari Bobby Nasution yang kini menjabat sebagai Gubernur Sumut.
“Dengan demikian, sangat kuat dugaan, pencopotan Ijeck itu atas permintaan dari Bobby Nasution,” ujar Sekretaris Dewan Pertimbangan Golkar Sumut Periode 2020-2025, yang mengundurkan diri setahun lalu.
Karenanya Hardi Mulyono menyimpulkan, pencopotan Ijeck semakin membenarkan dugaan banyak orang tentang rendahnya kualitas dan karakter kepemimpinan Bahlil Lahadalia di dalam memimpin Partai Golkar.
“Bahlil mencopot kader Golkar berprestasi, semata untuk memenuhi permintaan orang luar. Sangat memalukan,” ujar Hardi, sekretaris Golkar Sumut Periode 2009-2012.
Sebagaimana diketahui, Golkar Sumut di bawah kepemimpinan Ijeck berhasil menjadi partai pemenang pada Pileg 2024. Untuk DPRRI, Golkar Sumut meraih delapan kursi atau meningkat 100 persen dibanding Pileg 2019 yang hanya memperoleh 4 kursi. Jumlah ini menjadikan Golkar Sumut sebagai partai yang memperoleh suara terbanyak di DPRRI.
Sedangkan untuk DPRD Sumut, Golkar Sumut meraih 22 kursi dan berhak menduduki kursi ketua DPRD Sumut.
Jumlah ini jauh meningkat dibanding pileg sebelumnya yang hanya memperoleh 15 kursi. Sedangkan untuk DPRD di 33 kabupaten/kota se-Sumut, Golkar Sumut meraih 208 kursi dan jauh dibandingkan perolehan Pileg sebelumnya sebanyak 184 kursi.
“Semua prestasi Golkar Sumut itu, berkat kualitas kepemimpinan Ijeck yang mumpuni di dalam memimpin Golkar Sumut. Jujur mesti diakui, bahwa Ijeck adalah kader Golkar terbaik di Sumut sepanjang belasan tahun saya di Golkar,” tegas Ketua Fraksi Golkar DPRD Sumut Tahun 2014-2019, yang juga Rektor Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah Medan Tahun 2018-2023.
Ditegaskan Hardi, keputusan Bahlil Lahadalia mencopot Ijeck dengan jelas telah mengancam soliditas Golkar Sumut yang selama ini telah terbangun secara baik. Apalagi alasan pencopotan sungguh sangat tidak bisa diterima akal sehat para kader Golkar di Sumatera Utara.
“Bahlil telah merusak soliditas Golkar Sumut, sekaligus membunuh akal sehat para kader Golkar di Sumut,” tegas Hardi Mulyono. (hidayat ahmad)






