METRO24JAM.ID – Hujan yang mengguyur kawasan timur dan utara Aceh selama seminggu lebih dan belum reda hingga saat ini, memaksa seluruh aktivitas publik di kawasan itu lumpuh total. Banjir menggenangi setiap wilayah dengan ketinggian air rata-rata mencapai 50 cm hingga 100 cm.
Di Kota Lhokseumawe, fasilitas umum seperti perkantoran dan sekolah dari tingkat SD, SMP, hingga SLTA lumpuh total tanpa aktivitas karena kantor dan sekolah dilanda banjir.
Begitu juga sektor perekonomian mengalami hal yang sama. Pusat pasar tradisional Lhokseumawe seperti Pasar Inpres, yang biasanya dipadati warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, saat ini juga lumpuh karena terendam banjir.
Bahkan perbankan seperti Bank Aceh Syariah di Jalan Samudera, Lancang Garam, Lhokseumawe, juga ikut tergenang air.
Sebagian warga Lhokseumawe mengungsi, terutama dari rumah-rumah yang terendam banjir ke meunasah (surau).
Kepala Desa (Geuchik) Gampong Jawa Baru Kecamatan Banda Sakti T Yulizar telah mengimbau warganya agar segera mengungsi ke meunasah dan menyebutkan bahwa dapur umum segera disiapkan.
“Saya telah instruksikan kepada kepala dusun agar segera membawa warganya yang rumahnya dilanda banjir untuk mengungsi dulu ke meunasah. Nanti kita siapkan dapur umum,” ungkapnya, Rabu (26/11/2025).
Sementara itu, lintasan jalan Medan–Banda Aceh mulai dari Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireuen hingga Sigli, badan jalannya sudah digenangi air, terutama ruas yang berada di dataran rendah.
Akibatnya banyak pengemudi, terutama angkutan umum, menghentikan kegiatan karena khawatir kendaraan terjebak banjir.
Seorang sopir travel, Om Dinul, mengaku terpaksa tidak beroperasi karena intensitas hujan masih tinggi dan sejumlah ruas jalan dilanda banjir.
Di Jalan Medan–Banda Aceh, tepatnya di depan RSU Cut Meutia Lhokseumawe, ketinggian air di badan jalan mencapai 50 cm. Begitu juga di lintasan Jalan Blang Panyang, Kecamatan Muara Dua; depan Polres Lhokseumawe; serta Desa Panggoi di kecamatan yang sama, badan jalan turut dilanda banjir.
Sedangkan di Kota Langsa, banjir juga melanda kawasan perkotaan seperti sepanjang Jalan A Yani, sehingga aktivitas perekonomian masyarakat ikut lumpuh.
Di Aceh Utara, sektor pertanian—terutama di sentra tanaman padi—seluas ribuan hektare turut dilanda banjir, padahal tidak lama lagi wilayah tersebut memasuki masa panen raya. (hidayat ahmad/gosumut)






