METRO24JAM.ID – Masyarakat Aceh Timur akan melakukan aksi demontrasi berjilid, jika tuntutan penetapan status bencana nasional tidak direspon oleh Pemerintah Pusat.
Demikian disampaikan salah satu koordinator aksi, Masri dalam aksinya, Selasa (16/12/2025).
“Aksi ini perdana kami lakukan, karena kami lihat pemerintah pusat sangat lamban dalam penanganan bencana. Oleh karena itu kami meminta ditetapkan bencana nasional. Jika tidak direspon, maka kami akan turun lagi dan gelar aksi berjilid-jilid,” tuturnya.
Masri juga mengatakan, kerusakan akibat banjir bandang ini sangat luas. Di Kecamatan Pante Bidari saja, kerusakan rumah warga mencapai 2.234 unit dengan skala kerusakan berat.
Apalagi di Kecamatan lainnya di Aceh Timur yang berdampak.
“Ribuan rumah rusak dan masyarakat kehilangan tempat tinggal. Bagaimana daerah menanggani rehab rekon ini yang sudah di luar kapasitasnya,” ungkapnya.
Menurutnya, penetapan bencana nasional bukan hanya soal bantuan logistik semata, tetapi juga pengakuan atas skala tragedi yang melampaui kemampuan fiskal Aceh secara umum serta Aceh Timur khsususnya.
Selain kerusakan fisik dan korban jiwa, ada krisis kesehatan yang mengintai. Mulai dari, ISPA, diare dan demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan sanitasi pasca banjir.
“Lebih dari itu dampak psikologis dan trauma yang dialami anak-anak serta lansia merupakan bom waktu. Jadi penetapan status bencana nasional agar dunia luar juga mengetahui bagaimana dampak bencana dan kondisi kamp pengungsian di sini,” paparnya.
Dia menegaskan, bila pemerintah pusat masih menutup mata, maka akan ada aksi berjilid-jilid sebagai bentuk perlawanan sipil terhadap lambannya negara dalam memberikan perhatian untuk rakyatnya. (snc/hidayat ahmad)






