METRO24JAM.ID – Sejumlah tenda warna orange berdiri di sisi kiri-kanan jalanan di Desa Lhok Puuk Kecamatan Seunuddon Kabupaten Aceh Utara, Minggu (29/3/2026). Aneka perlengkapan rumah tangga terlihat jelas di dalam tenda.
Ya, itulah pemandangan yang akan terlihat saat datang ke desa pesisir pantai itu.
Jika siang hari, umumnya pengungsi korban banjir meninggalkan tenda. Sebab, rasa panas bak dikukus di atas tungku, jika masih berada di tenda. Mereka akan memilih duduk ke sejumlah rumah tetangga atau keluarga hingga sore hari.
Salah satu pengungsi yang menempati tenda itu, Ismail (45 tahun), yang baru saja keluar dari tenda pengungsian berwarna orange miliknya, terlihat penuh keringat. Kaos yang dikenakannya basah penuh peluh keringat.
“Rumah saya hancur semua. Tidak tersisa. Tenggelam sudah menjadi laut,” kenangnya.
Dia pun duduk dibawah pohon kelapa bersama pengungsi korban banjir lainnya.
“Kami disuruh meninggalkan tenda 28 Ramadhan lalu. Disuruh masuk ke hunian sementara (Huntara). Masalahnya, Huntara belum selesai, maka kami tidak mau membongkar tenda,” ujarnya.
Dia pun mengkritik data yang dilansir Satuan Tugas Rehabilitasi Rekontruksi Sumatera yang menyatakan tidak ada lagi pengungsi di tenda dalam Kabupaten Aceh Utara.
“Terus kami ini siapa? Bukan pengungsi lagi, bukan di tenda lagi? Tolonglah kasih tahu presiden data sebenarnya,” ujarnya.
Saat ini, desa itu memiliki 3 titik hunian sementara (Huntara). Secara umum bangunan telah rampung, namun belum memiliki arus listrik, air bersih dan tangki toilet.
“Sebelum lebaran lah terakhir mereka bekerja, sampai sekarang belum ada bekerja lagi. Entah kapan akan dibagikan,” ujar M Tahir, pengungsi korban banjir lainnya.
Lalu bagaimana bahan bantuan? Tahir tersenyum.
“Kita tunggu saja kapan datang bantuan itu. Kami di sini nelayan, ya ke laut lagi cari ikan, cari belanja. Bagi yang mau bekerja di hunian sementara juga diberikan pekerjaan,” kata Tahir.
Dia pun tak berpikir muluk-muluk soal bantuan.
“Kalau ada kita terima, kalau tidak ada, ya sudahlah. Allah maha kaya,” ujarnya.
Kini, berbulan-bulan pascabanjir, desa itu masih porak-poranda. Belum terlihat perbaikan yang memadai di sejumlah tempat. Bangunan rubuh dan tenda pengungsian masih terlihat nyata. Semuanya masih menunggu sentuhan tangan pemerintah. (hidayat ahmad/kc)






